Indikasi Geografis Kopi: Dari Juan Valdez dan Kogi People, hingga Siti Kewe dan Subak Abian

Lagi-lagi karena memulai menulis tesis itu sulit sekali, apalagi setelah liburan Lebaran yang panjang, saya memulai pemanasan menulis dengan sedikit membahas Indikasi Geografis di blog. Pertemuan saya dengan istilah ini adalah ketika membantu senior sekaligus dosen pembimbing saya (saat ini) melakukan penelitian tentang kopi dan kakao.  Saya memahami lebih dalam istilah ini sebagai hak kekayaan intelektual pada pembahasan di salah satu mata kuliah, hingga menjadi topik tesis saya kali ini.


Indikasi geografis (IG), menurut Dirjen Kekayaan Intelektual, adalah “suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan reputasi dan kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan”.

Intinya, IG ini adalah bentuk perlindungan atas produk yang memiliki reputasi yang dihasilkan dari lokasi geografis tertentu. Kasarnya, kalau tidak dibuat di tempat itu, rasa/kualitas/hasil produk yang dihasilkan akan berbeda. Untuk yang sudah familiar dengan nama-nama kopi seperti kopi arabika Gayo, kopi arabika Kintamani, kopi arabika Bajawa; atau yang tahu beras Cianjur, tembakau Sumedang, ubi Cilembu, ukiran Jepara mungkin sudah tahu beberapa produk yang sudah terdaftar Indikasi Geografis di Indonesia. Saat ini ada 68 produk yang terdaftar sebagai Indikasi Geografis dan 21 nya adalah kopi (selengkapnya baca disini) [1].

Praktik Indikasi Geografis (dan spesialisasi tradisional) datang dari Uni Eropa dengan bentuk Protected Designation of Origin (PDO), Protected Geographical Indication (PGI), dan Traditional Specialities Guaranteed (TSG) [2]. Keuntungannya, produk terdaftar akan dilindungi hukum karena tidak sembarang orang bisa memproduksi produk tersebut. Sebut saja Anda ahli memasak dan mengolah susu menjadi keju dan membuat keju Parmigiano Reggiano, tanpa lisensi dari pelindung IG nya, Anda bisa dipidana jika memperjualbelikan produk Anda dengan nama tersebut.

Hasil gambar untuk PDO and PGI

Lambang/Logo pada produk PDO dan PGI di Uni Eropa (Sumber: disini).

PDO merujuk pada proses produksi dari hulu sampai produk jadi yang dilakukan di wilayah geografis tertentu di bawah pengawasan pelindung PDO-nya. Sedangkan, PGI merujuk pada proses produksi yang salah satu bagiannya (biasanya hulu) dilakukan di wilayah geografis tertentu di bawah pengawasan pelindung PGI-nya, dan diperbolehkan untuk melakukan pengolahan lanjutan di wilayah lain dengan ketentuan tertentu. Saya misalnya pada produksi kopi di Gayo: PGI adalah ketika proses produksi cherry sampai green bean dilakukan di Gayo, kemudian dijual, dan tahap selanjutnya (hingga kopi tersebut siap seduh) boleh dilakukan di luar Gayo; sedangkan PDO adalah ketika dari produksi cherry, green beans, hingga produk jadi yang dikemas dengan merek dagang (siap seduh) dilakukan di semuanya di Gayo.

Karena eksklusivitasnya, harga produk menjadi tinggi dan produsen akan mendapatkan nilai tambah. Terlepas dari belum optimalnya juga penerapan Indikasi Geografis ini di Indonesia [3], tujuan “mulia” dari IG ini selain meningkatkan kesejahteraan produsen adalah untuk menjaga ketat kualitas dari produk karena akan sangat berhubungan dengan reputasi. Bersyukurlah, selain dilindungi di negara sendiri, produk Indonesia juga sudah ada yang dilindungi oleh skema PGI dan PDO di luar negeri (Uni Eropa).

Sebelumnya, saya akan membatasi terlebih dahulu bahasan indikasi geografis di tulisan ini di sektor kopi saja.

Sejak tahun 2017, Kopi Arabika Gayo (PGI) sudah terdaftar di Uni Eropa, menyusul kopi-kopi lain seperti Café de Colombia (PGI; 2007), Kafae Doi Tung Thailand (PGI; 2015), Kafae Doi Chaang Thailand (PGI; 2015), dan Café Valdesia Dominican Republic (PDO; 2016) [4]. Artinya, perdagangan kopi yang melibatkan nama Kopi Arabika Gayo sudah diatur sedemikian rupa dengan sepengetahuan Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis (MPIG) yang bersangkutan.

Juan Valdez

Karena menyoal dagang adalah juga berhubungan dengan citra produk, mengelola kopi yang terindikasi geografis ini juga gampang-gampang susah. Tak hanya melibatkan keunggulan biofisik geografis, tetapi juga faktor manusia menjadi penting di dalamnya. Mari kita sedikit berkaca pada kesuksesan Kolombia…

Kolombia dengan Café de Colombia-nya telah berhasil menjadi salah satu kopi bereputasi tinggi di dunia. Saya menemukan sebuah cerita anekdotal tentang bagaimana kopi Kolombia ini bisa dibilang terbaik. Saya menemukannya di salah satu scene film Bruce Almighty (2003). Bruce, yang diperankan Jim Carrey, ceritanya sedang bertukar peran dengan “Tuhan” yang diperankan oleh Morgan Freeman. Ketika Bruce sedang membalas doa-doa di laman e-mailnya, dia baru sadar bahwa pekerjaan “Tuhan” tidaklah mudah. Dia kemudian ingin relaksasi dan meningkatkan mood bekerja dengan minum kopi. Sebagai “Tuhan”, mudah sekali untuknya berkehendak. Kopi apa yang ia pilih sebagai minuman terbaik? Ya, betul.  Café de Colombia. Dan, ia mendatangkan langsung petani kopinya dari Kolombia.

Cuplikan Bruce sedang menyeruput kopi Kolombia di rumahnya, di tengah-tengah kesibukannya sebagai “Tuhan”. (Courtesy: YouTube)

Pada adegan itu, kopi Kolombia dibawa langsung oleh sosok petani kopi yang bertopi lebar, bersama kuda dan karung penuh berisi kopi. Sosok ikonik itu adalah Juan Valdez, lambang dari supremasi Café de Colombia. 

Capture.PNG

Juan Valdez, karakter fiktif yang diperankan oleh aktor dan menjadi bagian iklan National Federation of Coffee Growers of Colombia sejak 1958 [5], dalam perjalanan mensukseskan proyek PGI kopi Kolombia (Sumber: disini)

Perjalanan Café de Colombia menjadi salah satu kopi terbaik tidaklah mudah. Federasi kopi Kolombia (Federación Nacional de Cafeteros de Colombia (Spanish) atau National Federation of Coffee Growers of Colombia (English)) didirikan pada 1927. Butuh waktu hingga puluhan tahun untuk menjadikan kopi ini establish, hingga pada 2010 mereka berhasil menghasilkan peraturan perundang-undangan yang mengatur indikasi Geografis. Peraturan ini berlaku dan mengikat international roasting companies, brand owners, dan exporting companies dalam melindungi kopi Kolombia. Hingga Maret 2018, sudah ada 108 pengguna IG dan 336 merek dagang yang berizin menggunakan nama kopi ini.

Capture 2

Perkembangan kopi Kolombia 1927-2014
(Sumber: presentasi Xiomara F. Quiñones-Ruiz, 2018 [4])

Walaupun Kolombia adalah salah satu produsen kopi terbesar di dunia, kopi di Kolombia hanya memiliki satu “nama”, yaitu Café de Colombia. Wilayah mereka menanam kopi dikenal dalam tiga region: Utara, Tengah, dan Selatan. Pembagian wilayah ini tentu saja didasarkan pada karakteristik biofisik seperti kualitas tanah, elevasi, curah hujan, dan parameter iklim lainnya [6].

  • Wilayah Selatan yang lebih dekat dengan ekuator memiliki elevasi/altitude yang tinggi (1.500 s.d 1.700 mdpl) dan temperatur yang lebih rendah. Kopi yang dihasilkan memiliki tingkat keasaman yang tinggi, body yang medium, rasa yang smooth, sedikit rasa manis dan citrus. Di wilayah ini kopi biasanya dipanen di semester pertama. Wilayah ini pula dikembangkan sebagai wilayah Denomination of Origin (DOI). Kasarnya, jika ingin melihat kopi Kolombia yang paling asli, ya di daerah ini [6] [7].
  • Wilayah Tengah merupakan daerah dimana sebagian besar kopi diproduksi, disebut juga sebagai coffee belt. Wilayah ini berada di 1.500 s.d 1.600 mdpl dengan karakteristik curah hujan yang tinggi. Kopi selalu tersedia sepanjang tahun dengan periode panen di September dan Desember serta panen ‘sekunder’ diantara April dan Juni. Kopi yang dihasilkan balanced dengan rasa fruity dan herbal [6] [7].
  • Wilayah Utara merupakan wilayah dengan kebun kopi yang memiliki pohon naungan; karena wilayahnya berada di altitude rendah (1.100 s.d 1.200 mpdl) sehingga temperatur cukup tinggi. Kopi di daerah ini memiliki karakter keasaman sedang, body yang bagus, serta rasa nutty dan chocolaty [6] [7].

Map-of-Colombian-coffee-regions-Source-Adapted-from-Federacion-Nacional-de-CafeterosWilayah tanam kopi di seluruh Kolombia, dibedakan menjadi tiga: Utara, Tengah, dan Selatan – dengan karakteristiknya masing-masing
(Sumber: disini)

Kogi People

Fernanda Quiñones-Ruiz, seorang peneliti kopi di BOKU Vienna yang berasal dari Kolombia, dalam kunjungannya ke Indonesia menjelaskan diversitas “nama” kopi di Kolombia tidak sebanyak di Indonesia. Dari ketiga wilayah produksi yang telah dipaparkan, kopi di Kolombia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

  • Wilayah kopi dengan kuantitas yang sangat tinggi tetapi memiliki kualitas yang rendah. Wilayah ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar yang sangat aktif melakukan ekspor dengan kuantitas yang tinggi. Biasanya dikuasai oleh orang-orang kulit putih pendatang
  • Wilayah kopi dengan kualitas yang tinggi, diolah secara organik di elevasi yang tinggi, namun memiliki kuantitas yang sedikit. Kopi yang dihasilkan memilki harga jual yang tinggi.
  • Wilayah kopi dengan kualitas sangat tinggi, tetapi kuantitasnya sangat rendah dan dikelola oleh suku-suku adat (pribumi) yang memiliki nilai-nilai spiritual dan emosional dengan kopi. Sudah pasti kopinya harganya mahal. Salah satu yang terkenal adalah Kogi Coffee yang diproduksi oleh Kogi People.

Capture 3.PNG

 

 

Kogi People (Kogi berarti Jaguar), salah satu suku asli (terdahulu) yang mendiami wilayah Kolombia dan memiliki budaya yang dekat dengan kopi. Mereka memiliki “spiritual coffee” yang dijual dengan harga yang sangat tinggi.
(Sumber:  disini)

Kogi People tinggal di kaki pegunungan Andes di Sierra Nevada de Santa Marta. Suku ini mempraktekkan pertanian kopi tradisional dengan menumbuhkan kopi secara liar sehingga terdapat hubungan ancestral antara suku tersebut kepada bumi. Pertanian kopi mereka berpegang teguh pada empat prinsip dasar [8] :

  1. Didasarkan pada conservation and recuperation of nature, yaitu prinsip dasar dari Kogi People yang tercantum dalam Law of Sé. Pada praktiknya, kopi ditanam secara bersamaan dengan (spesies-spesies) hutan, tidak dipisahkan di lahan khusus untuk menjaga lahan sekaligus mempertahankan sistem sosial di masyarakat.
  2. Menggunakan varietas Típica secara konsisten karena varietas ini dapat tumbuh baik di bawah naungan alami hutan. Mereka percaya bahwa varietas ini telah diberikan oleh leluhur ayah dan ibu mereka, untuk menunjukkan bahwa sangat mungkin terjadi harmoni antara alam (hutan) dan penghidupan.
  3. Semua aktivitas yang dilakukan secara fisik harus dipersiapkan secara spiritual. Mereka harus memberikan persembahan kepada leluhur ayah dan ibu sebagai tanda terima kasih atas kekayaan alam yang melimpah. Sebelum melakukan pekerjaan fisik di kebun, mereka melakukan kegiatan spiritual yang didampingi oleh Mamos (semacam pemuka adat).
  4. Lembaga adat (Resguardo Kogui-Malayo-Arhuaco) bertanggung jawab memberikan panduan untuk menanam kopi di setiap unit komunitas, termasuk menjelaskan bagaimana memproses biji kopi hingga membawanya ke pasar.

Max Havelaar

Indonesia tidak seperti Kolombia yang hanya memiliki satu “nama” kopi. Sampai Januari 2018 sudah terdapat 21 kopi terdaftar indikasi geografis – dari Kopi Arabika Gayo di ujung barat hingga kopi Arabika Flores Bajawa di ujung timur [1]. Daftar ini belum final karena masih banyak potensi yang belum terdaftar, termasuk kopi Wamena di Papua. Walaupun bukan budaya (dan spesies) asli Indonesia, budidaya kopi hari ini sudah menjadi bagian yang erat dengan masyarakat Indonesia.

Kopi (arabika) masuk ke Indonesia sejak 1696 dari India untuk ditanam di pulau Jawa (Priangan). Setelah berhasil dikembangkan pada 1714, Indonesia berhasil menjadi eksportir kopi ke Eropa. Kesuksesan tersebut menginisiasi dimulainya praktik tanam paksa (cultuur Stelsel) dan akhirnya kopi disebar di hampir seluruh wilayah Nusantara. Sistem politik tanam paksa ini begitu kejam, semata-mata demi meraup gulden sebanyak-banyaknya. Dari fenomena ini kemudian muncul gerakan-gerakan politik etis, salah satunya oleh Douwes Dekker melalui novelnya Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company (1881) [9]. *Novel ini juga sempat difilmkan

Trailer film Max Havelaar (1976). (Courtesy: YouTube)

“Kesuksesan” kopi arabika ini kemudian runtuh seketika setelah serangan hama Hemileia vastatrix, atau karat daun kopi pada tahun 1876. Hampir seluruh tanaman kopi arabika di dataran rendah habis dan hanya tersisa sekitar 10% lahan di ketinggian diatas 1.000 mdpl. Lahan kopi yang tersisa terkonsentrasi di pegunungan-pegunungan vulkanik  di Aceh Tengah, Malang, Jember, Bali, dan Sumatera Utara. Setelah itu, lahan kopi Indonesia ditanami sebagian besar oleh jenis robusta [10]. Inilah mengapa kopi arabika tidak ditemukan di semua daerah.

Masyarakat Indonesia mungkin tidak familiar dengan kopi arabika yang ‘asam’. Pribumi hanya terbiasa mengkonsumsi kopi murah robusta yang hitam pekat dan pahit. Kopi mahal arabika itu hanya dinikmati oleh para hollanders; dan pembeli kopi di Eropa. Mungkin baru sekitar tahun 2010, fenomena kedai kopi spesialti dan single origin mulai mewabah di Jakarta, ditambah geliat kopi yang meningkat paska rilisnya film Filosofi Kopi, awareness masyarakat tentang kopi arabika semakin tinggi – bahkan bisa dibilang booming. Sekarang kedai kopi spesialti ada dimana-mana dan dikuasai anak muda. Sampai-sampai, penguasa pasar kopi arabika di dunia, Starbucks, harus mulai beradaptasi dengan meningkatkan suplai kopinya melalui buying station di daerah penghasil kopi – karena mulai rebutan dengan roaster-roaster lokal di dalam negeri [11].

Intinya, sekarang kopi arabika sudah mendapatkan tempatnya di Indonesia walau hanya 30% dari seluruh produksi kopi nasional. Inilah mengapa Indikasi Geografis menjadi sesuatu yang penting dan relevan diterapkan. 

Siti Kewe dan Subak Abian

Juan Valdez, Kogi People, atau indigenous people lainnya yang berhubungan dengan kopi merupakan suatu cerita yang bisa ‘dijual’ dan dijadikan bagian dari strategi pengembangan kopi berindikasi geografis. Tidak hanya melibatkan aspek lingkungan, aspek manusia juga menjadi faktor penting yang menjadikan suatu komoditas atau produk tersebut menjadi unik dan bereputasi. Tentu saja, Indonesia juga memiliki itu.

Di tulisan sebelumnya, saya mencoba membuat narasi tentang bagaimana orang Gayo memperlakukan kopi secara emosional dan kultural. Saya kira cerita yang ditampilkan kurang lebih mirip dengan tata cara budidaya Kogi People di Kolombia. Walaupun realitanya di saat Kogi People diperlakukan khusus hingga mampu eksis dan berhasil menjual ‘spiritual coffee’-nya secara premium [12], ritual Siti Kewe malah mulai punah.

Kolombia memang telah sukses mengembangkan kopinya sampai sekarang, tetapi bukan berarti mereka memiliki segalanya. Kita beruntung karena kita masih memiliki modal sosial yang tinggi jika kita membandingkan pengelolaan rantai nilai kopi di Kolombia dengan di Indonesia. Setidaknya di Gayo, hubungan saling percaya antara petani dan kolektor dalam kelompok tani/koperasi masih sangat tinggi.

Pada satu kesempatan diskusi di sebuah sesi wawancara antara saya, Fernanda, dan Aljasri pada field-trip di Takengon April lalu, hubungan saling percaya antarpetani tersebut banyak dibahas. Di Takengon, kolektor dengan sangat percaya menerima kopi dari petani-petani tanpa pengecekn terlebih dahulu. Entah ini bentuk penyederhanaan sistem rantai nilai sehingga kopi yang dibeli kolektor menjadi lebih murah, atau upaya menjadikan jual-beli kopi ini inklusif dengan modal saling percaya. 

Memang perlu diakui bahwa petani kopi pada umumnya memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai kualitas kopi dan rata-rata mereka tidak mampu mengolah buah kopi menjadi gabah (parchments), apalagi beras (green beans). Seringkali juga kopi-kopi tersebut dioplos dan kualitasny tidak konsisten. Tetapi, biasanya antar kelompok tani/koperasi masih ada hubungan kekerabatan/famili sehingga mau tidak mau antar anggota mesti percaya satu sama lain.

Sedangkan di Kolombia, koperasi atau kelompok tani memberlakukan sistem poin untuk setiap kopi yang disetorkan. Petani akan mendapatkan harga sesuai dengan kualitas kopi yang dimilikinya. Praktik ini, menurut Fernanda, sangat transaksional dan tidak membangun modal sosial sama sekali diantara anggota kelompok. Bahkan, di beberapa lokasi terjadi kompetisi antara tengkulak konvensional dan koperasi, tergantung yang mana yang memberikan harga yang lebih baik untuk petani.

Saya belum tahu (dan belum mencari tahu lebih dalam), mungkin saja ada cerita lain tentang muatan-muatan spiritual dalam bertanam kopi di daerah lain di Indonesia. Tapi sampai saat ini saya duga, kebudayaan asli suku-suku adat di Indonesia tidak secara langsung memasukkan kopi sebagai bagian dari identitas adatnya – karena kopi itu sendiri bukan barang ‘asli’ Indonesia. Misalnya, kampung adat di Jawa Barat yang menjadi pusat praktik tanam paksa kopi, lebih erat dengan bertanam padi, bukan minum kopi.

Ada sedikit cerita menarik dari Bali berkenaan dengan pengembangan kopi berindikasi geografis di Indonesia. Cerita itu datang dari Kopi Arabika Kintamani Bali, indikasi geografis pertama di Indonesia (2008). Saya beruntung dapat berkesempatan datang dan melihat bagaimana petani kopi di Bali bekerjasama dalam sistem Subak Abian. Subak Abian adalah sistem pengelolaan irigasi teknis di lahan kering yang disandarkan pada satuan adat. Mereka berhasil menginternalisasi pengelolaan lahan kopi ke dalam sistem adat.

Di masing-masing tempek (bagian dari desa adat), biasanya satu Subak Abian sudah dibentuk dengan anggota 50-150 keluarga petani. Subak Abian ini sangat berperan dalam mengelola urusan sosial dan agama, terutama dalam menyelenggarakan upacara adat. Subak Abian ini dilandasi oleh azas Tri Hita Karana (Tiga Sebab Kebahagiaan): Parahyangan (hubungan manusia-Tuhan), Pawongan (hubungan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan manusia-lingkungan). Untuk mewujudkannya, Subak Abian memiliki sebuah pura dan memiliki peraturan yang disebut awig-awig. Peraturan tersebut dirancang, dirumuskan, dan disepakati bersama dalam pertemuan Subak (Paruman). Kasarnya, bagaimana cara menanam, mengolah, dan menjual kopi sudah dimasukkan ke dalam peraturan adat sehingga sifatnya lebih mengikat [12].

Karena semua aspek budidaya diatur di dalam awig-awig, keterikatannya dengan masyarakat menjadi lebih kuat. Kehidupan spiritual orang Bali memang terbilang spesial. Sebobrok-bobroknya orang Bali, pasti ia masih pergi ke pura dan menaati awig-awig. Bahkan, hukum adat lebih ditaati ketimbang hukum negara. Modal sosial ini juga yang menjadikan Kopi Arabika Kintamani Bali menjadi salah satu role model dalam pengelolaan indikasi geografis kopi di Indonesia.

Di akhir tulisan ini saya belum dapat menyimpulkan bahwa Indonesia adalah produsen kopi (arabika) terbaik dunia seperti Kolombia karena tulang punggung kopi Indonesia masih robusta (70%). Tetapi, dengan kondisi kopi Indonesia hari ini, bukan tidak mungkin kesuksesan Kolombia sebagai salah satu penghasil kopi arabika terbaik (dari segi kualitas dan kuantitas) dapat kita raih di kemudian hari. Bentuk-bentuk modal sosial, modal kultural, social embeddedness, dan perlindungan kopi lokal yang sudah ada adalah upaya menuju arah yang lebih baik. Saya kira, dengan sudah dilindunginya Kopi Arabika Gayo di Uni Eropa (menyusul Café de Colombia di tahun 2007 silam) adalah langkah awal yang sangat baik.

Wallahu a’lam. 


Referensi:

[1] http://www.dgip.go.id/images/ki-images/pdf-files/indikasi_geografis/IG%20Terdaftar%20+%20LOGO%20update%20JAn%202018.pdf

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Geographical_indications_and_traditional_specialities_in_the_European_Union#Protected_designation_of_origin_(PDO) 

[3] Neilson, J., Wright, J., Aklimawati, L. 2018. Geographical indications and value capture in the Indonesian coffee sector. Journal of Rural Studies 59: 35-48

[4] Quiñones-Ruiz, Xiomara Fernanda. 2018. Protecting geogaphical indications in the EU – The case of coffee. Workshop Indikasi Geografis, Sanur, Bali. 1 April 2019

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/Juan_Valdez

[6] http://www.cafedecolombia.com/particulares/en/la_tierra_del_cafe/regiones_cafeteras/

[7] http://www.clearpathcoffee.com/blog/2014/7/13/what-everybody-ought-to-know-about-the-colombian-coffee

[8] https://www.culturalsurvival.org/publications/cultural-survival-quarterly/kogi-urgent-call-guardians-heart-world 

[9] http://kopidewa.com/cerita-kopi/sejarah-kopi-di-indonesia/

[10] Wawancara dengan Ir. Yusianto, peneliti utama kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember.

[11] https://uk.reuters.com/article/uk-indonesia-coffee/indonesias-growing-thirst-for-coffee-drains-premium-bean-supplies-idUKKBN1JI02N

[12] http://e-book.dgip.go.id/indikasi-geografis/filemedia/kopi-arabika-kintamani-bali/download/file.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s